Try us on Wibiya!

Dapatkan dibayar Untuk Mempromosikan Pada Setiap WebSite

Get paid To Promote at any Location
Tampilkan postingan dengan label Padang Lawas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Padang Lawas. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 September 2010

Tiga Lukisan Batara Lubis

Sebenarnya saya sudah lama mendengar nama pelukis satu ini. Saya tahu nama Batara Lubis sebab ia adalah pelukis dari Mandailing yang mendapat tempat dalam perbincangan seni lukis di Indonesia. Meskipun saya tertarik untuk mengenalnya lebih jauh, tetapi selama ini saya belum pernah sama sekali menyermati karayanya. Persentuhan saya dengan seni yang sangat intens di bidang sastra membuat saya agak terlambat untuk mengakses lukisan-lukisan Batara Lubis.

Setidaknya ada dua hal yang membuat saya ingin mengetahui lukisan-lukisan Batara Lubis lebih jauh. Pertama, sebagai sesama orang Mandailing yang sama-sama pernah tinggal di Yogyakarta, saya ingin tahu bagaimana ia menemukan kembali identitas kemandailingannya di tengah-tengah kehidupan budaya Jawa di Yogyakarta yang sangat kental.

Kedua, karena ia adalah anak raja di kampung saya dan sekaligus juga putra dari Gubernur pertama Sumatera Utara, Bapak Almarhum Raja Junjungan Lubis. Batara Lubis sendiri sebenarnya bukanlah nama seniman yang mengakar dalam keseharian orang Mandailing, itu kalau misalnya kita bandingkan dengan Willem Iskander. Dimana yang terakhir syair-syairnya seperti hidup di tengah-tengah masyarakat Mandailing. Tulisan ini akan mengeksplorasi identitas Mandailing dalam tiga lukisan Batara Lubis, yaitu lukisan yang berjudul Si Taing, Sipangan Anak Sipangan Boru dan Hutanagodang.

Memandangi lukisannya yang berjudul Si Taing, saya merasa bahwa lukisan itu mewujudkan imajinasi seorang laki-laki Mandailing tentang perempuan. Hal ini terlihat dari nama dan unsur-unsur yang ada dalam lukisan tersebut. Tentang nama lukisan ini, pelukisnya memberikan nama yang sangat tepat. Ada beberapa panggilan kepada anak gadis dalam budaya Batak, misalnya si Butet dan si Taing.

Si Butet lebih banyak dipakai di daerah Tapanuli Utara dan Tengah, dan juga di beberapa tempat di Tapanuli Selatan dan Mandailing. Jadi, meskipun domain si Butet ini adalah Tapanuli Utara, tetapi ia juga biasa dipakai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Mandailing. Hal ini sangat berbeda dengan si Taing yang hanya dipakai di Mandailing. Secara sangat cerdas panggilan ini dipilih oleh sang pelukis untuk menjadi judul lukisannya.

Saya percaya—setidaknya dari apa yang saya alami secara personal—bahwa sosok perempuan seperti dalam lukisan Si Taing itu ada, atau setidaknya pernah berada, dalam kepala semua laki-laki Mandailing. Lukisan itu sepertinya benar-benar mewakili prototype perempuan Mandailing. Rambutnya yang ditutup dengan kerudung yang tampaknya terbuat dari kain sulaman, bukan jilbab yang besar. Hal ini sangat penting, terutama kalau dikaitkan dengan mode berbusana para perempuan Muslim sekarang.

Banyak perempuan muslim sekarang yang memakai tutup kepala berupa jilbab yang lebar sehingga hampir-hampir menyerupai penutup kepala perempuan Arab. Perempuan Mandailing tidak memakai penutup kepala seperti itu. Meskipun hampir seluruh masyarakat Mandailing adalah pemeluk agama Islam yang taat—kecuali beberapa keluarga di Pakantan yang masuk Kristen karena kedatangan Belanda—, tetapi dalam berbusana perempuan Mandailing memiliki karakter sendiri.

Karakter yang saya maksudkan adalah persilangan antara kebudayaan Arab itu sendiri dana nilai lokal budaya Mandailing. Tradisi menutup kepala bagi perempuan diadopsi dari budaya Arab. Tetapi dalam bagaimana kepala itu ditutup tidaklah saklak serupa dengan bagaimana perempuan Arab menutup kepalanya.

Kalau perempuan Arab menutup semua kepalanya tanpa kecuali, akan tetapi perempuan Mandailing masih memperlihatkan lehernya yang putih. Pun penutup kepala itu terbuat dari kain tenunan yang berakar pada persilangan tradisi panjang tenunan Minangkabau dan Batak.

Warna kulitnya yang kuning langsat dan bersih, mata yang agak sipit, bibir yang agak kecil dan kelihatan cerewet, serta pipi dan rahang yang sedikit menonjol adalah personifikasi yang sangat pas bagi seorang perempuan Mandailing.

Lukisan kedua berjudul Sipangan Anak Sipangan Boru. Terus terang saya agak kecewa ketika mengetahui bahwa judul lukisan ini banyak diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dengan “Eater of Children and Women”. Terutama karena salah satu kekuatan lukisan ini justru berada pada judulnya. Ada makna yang tidak masuk dalam proses penerjemahan itu, seperti yang akan kita lihat nanti.

Sipangan anak sipangan boru adalah pribahasa yang sering dipakai oleh masyarakat dalam kehidupan keseharian di tanah Mandailing. Agak susah menerjemahkannya ke bahasa lain. Barangkali tinjauan pada penggunaan pribahasa tersebut dalam kehidupan keseharian masyarakat di tanah Mandailing akan dapat menjelaskan makna pribahasa ini.

Pribahasa sipangan anak sipangan boru biasanya dipakai untuk menyatakan induk yang tidak becus merawat keturunannya, malah lebih jauh, sang induk memakan anaknya. Dalam keseharian peristiwa ini sering terjadi pada kucing peliharaan. Dalam beberapa kali kesempatan kita dapat menemukan seekor kucing peliharaan betina memakan anaknya sendiri.

Sang induk inilah kemudian yang sering disebut dengan mengatakan ia sebagai “sipangan anak sipangan boru” atau kalau diterjemahkan secara leksikal ke dalam Bahasa Inggris akan menjadi “Eater of Son and Daughter.” Orang-orang yang tidak bijak merawat anak-anaknya sering juga disebut sebagai sipangan anak sipangan boru.

Dengan demikian, pribahasa ini sebenarnya adalah salah satu sisi paling gelap dalam kehidupan masyarakat, dalam hal ini Mandailing. Karena hampir dapat dipastikan tidak ada induk yang tidak menyayangi anaknya. Kalaupun ia ada, barangkali akan sangat susah bagi manusia untuk memahaminya. Begitu gelapnya sisi itu, sehingga pribahasa itu sendiri sangat jarang digunakan di masyarakat.

Latar belakang tentang pribahasa sipangan anak sipangan boru menjadi pengantar yang menarik bagi kita untuk sedikit memahami kedirian pelukis Batar Lubis. Kita menjadi sadar bahwa sang pelukis bukanlah orang yang tertib, dalam artian tidak mau mengusik wilayah-wilayah yang cenderung merupakan sisi gelap masyarakatnya. Alih-alih ikut-ikutan menyembunyikan sisi gelap itu, sang pelukis malah menemukannya kembali dan mengreasikan ulang dalam bentuk lukisan.

Pribahasa sipangan anak sipangan boru ditampilkan dalam bentuk makhluk yang menyerupai seekor kucing yang sedang memangsa makhluk yang tampaknya serupa tetapi dalam ukuran yang lebih kecil, atau untuk memudahkan sebut saja “anaknya”. Selain makhluk menyerupai seekor kucing yang sedang memakan anaknya tersebut yang merupakan pusat dari lukisan ini, kita juga dapat melihat makhluk-makhluk imajinatif lain yang berwujud seperti kelabang berbisa dan makhluk panjang menyerupai ular dengan kaki-kaki yang halus. Semua ornamen yang ditampilkan dalam lukisan ini seolah-olah menegaskan sisi gelap dalam pribahasa sipangan anak sipangan boru itu.

Tak dapat diingkari, ketiga lukisan ini adalah simboliasasi dari keseahrian di Mandailing. Melalui simbol-simbol yang ditampilkan, pakaian yang ada dan pemberian judul, penulis dengan sangat cerdas mendefiniskan Mandailing dalam lukisan-lukisannya sebagai sebuah entitas tersendiri yang berbeda bahkan dari Batak sekalipun. Dan karenanya, barangkali agak susah bagi orang non-Mandailing untuk “menikmati” ketiga lukisan itu.

Lukisan ketiga berjudul Hutanagodang. Hutanagodang adalah nama kampung sang pelukis, secara leksikal berarti “kampung yang besar”. Pelukis dilahirkan dan dibesarkan di sana sebelum akhirnya memutuskan untuk meneruskan pendidikannya di Yogyakarta.

Item-item yang dihadirkan dalam lukisan ini secara langsung merujuk ke pekarangan sebuah istana di perkampungan Mandailing, dalam hal ini Hutanagodang. Kita dapat melihat baik “bagas godang” (rumah adat Mandailing) dan “sopo godang” lengkap dengan segala ornamen lukisannya pada bagian segitiga atap yang menghadap ke depan.

Kehadiran tangga yang sangat tinggi baik di bagas godang dan sopo godang semakin memperkental identitas rumah adat itu. Dan tentu saja, yang tak kalah penting adalah kehadiran rangkaian pegunungan pada bagian latar belakang, yang hampir dapat dipastikan adalah beberapa buah dari igir yang terdapat pada rangkaian Bukit Barisan, dimana hal ini menambah keotentikan Hutanagodang yang ditampilkan dalam lukisan ini.

Wisata di Padang Lawas, ada pemandian Aek Sijorni

 Sijorni adalah nama tempat di Kabupaten Padang Lawas - Indonesia, di tempat itu ada sebuah sumai yang panjang yang dinamai Sungai Sijorni, sungai ini sangat unik, sungai ini sangat ramai oleh pengunjung, banyak juga dikunjungi para wisatawan asing.

Tempat ini biasa dibuat sebagai tempat berlibur, banyak dari kalangan anak-anak muda, Sungai sijorni ini sudah terkenal sejak tahun enampuluhan, hanya saja tempat ini kurang di perhatikan oleh pemerintah. Jika tempat ini di tata dengan baik, maka ini akan menjadi salah satu peluang untuk tempat wisata yang terkenal.

Sebetulnya peluang juga untuk para bisnis yang serius menggarap bisnis wisata. "ini tempat yang berpotensi tinggi, karena di tempat ini memang sangat unik, suasananya juga sangat mengesankan.

Ayo.... para pebisnis, buat tempat ini menjadi tempat wisata favorit para wisatawan, karena ini adalah peluang buat anda. Photo by: Ale S. Simanjuntak


Polsek: jangan memakai perhiasan yang menyolok bila ke Pasar

Polsek Barumun Sosialisasi Keamanan di Pasar Sibuhuan, Waspadai Copet Berhipnotis.

Polsek Barumun Kabupaten Padang Lawas (Palas), Senin (30/8) turun ke Pasar Sibuhuan, sambil membawa toa untuk mengimbau masyarakat yang berdagang dan membeli di pasar hati-hati terhadap pencopet.

Hal itu menyikapi adanya peristiwa pencopetan menggunakan hipnotis di Pasar Gunung Tua beberapa waktu lalu, dan diduga sudah pelaku mulai beraksi di Pasar Sibuhuan.
Image Hosted by UploadHouse.com

Kapolsek Barumun, AKP Hermansyah Putra bersama anggota ketika turun ke Pasar mengimbau masyarakat agar waspada terhadap pencopet.

Kapolres Tapsel, AKBP Subandriya SH MH melalui Kapolsek Barumun, AKP Herwansyah Putra SH saat turun ke pasar Sibuhuan bersama anggotanya mengatakan, pihak Polsek mengimbau kepada masyarakat agar jangan memakai perhiasan yang menyolok ketika berbelanja ke Pasar, termasuk bagi pedagang juga jangan mudah terpedaya jika ada orang yang tidak dikenal. Karena kebiasaannya, para pencopet hipnotis menggunakan modus pura-pura kenal atau mengajak calon korban bercerita.

“Jadi hingga lebaran tiba, kita sudah menempatkan personil Polsek sebanyak 25 personil di seputar Pasar di wilayah hukum Polsek Barumun,” ujar AKP Herwansyah.

Dia menambahkan, masyarakat yang memiliki perhiasan berupa emas sebaiknya tidak memakai berlebihan ke pasar, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Minggu, 26 September 2010

Lampu merah Simpang 4 Pasar Sibuhuan selalu macet

Kapan ya.... Simpang empat pasar sibuhuan Kecamatan Lubuk Barumun Kabupaten Padang Lawas ini bisa teratasi oleh macet, kejadian ini pasti seluruh pengguna jalan mengeluh, karena untuk melewati jalan tersebut harus mengantri paling lambat setengah jam, tentulah anda pasti merasa resah dengan kejadian ini.

Disebabkan Jalan Lingkar Pasar Latong-Sihupak Rusak Parah.
Sepanjang simpang empat Pasar Sibuhuan, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas (Palas) tiap hari jadi langganan macet. Hal ini disebabkan jalan lingkar Pasar Latong-Sihupak, Kecamatan Barumun, tidak difungsikan karena kondisinya rusak parah.

Hal ini diakui Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Palas Irwan Marajo Lubis. Menurut pria ini, pihaknya kewalahan mengatasi persoalan macet di pusat Pasar Sibuhuan. Sebab, Pemkab Palas belum memiliki terminal yang mengatur keluar dan masuk kendaraan ke dalam pusat kota. Sehingga truk bermuatan berat tidak bisa dicegat masuk ke pusat Pasar Sibuhuan, termasuk bongkar muat yang sembarangan di tepi jalan pusat Pasar Sibuhuan.

"Kalau jalan lingkar Pasar Latong-Sihupak difungsikan maka bus besar, truk, fuso dan kendaraan lainnya tidak akan melintas di jalan pusat Pasar Sibuhuan, otomatis macet akan terhindari dan terantisipasi. Kalau seperti sekarang ini, kami sulit untuk mengatasinya. Untuk itu sebaiknya Palas memiliki terminal untuk mengantisipasi persoalan macet," ujar Kadis. (amr)

Selasa, 21 September 2010

Mengadu ke Anggota DPD RI Parlindungan Purba SH MM

Setelah bertahun-tahun beroperasi dan tidak memberi dampak apa-apa terhadap kehidupan masyarakat di Kecamatan Barumun Tengah, Senin (23/2) puluhan tokoh adat dan masyarakat Barumun Tengah mengadu ke Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Asal Sumut, Parlindungan Purba SH MM yang meluangkan waktunya langsung bertemu dengan masyarakat di aula kantor camat Barumun Tengah, Binanga.

Kedatangan Parlindungan sudah dinanti-nantikan oleh warga Barumun Tengah dan telah mempersiapkan laporan mereka tentang surat pernyataan penolakan keberadaan PT SRL dan PT SSL di Barumun Tengah untuk diserahkan langsung ke DPD RI. Isi surat pernyataan yang diserahkan oleh sekelompok tokoh masyarakat tersebut antara lain berisi penolakan warga masyarakat di beberapa desa terhadap keberadaan SRL dan SSL yang menguasai dan mengadakan kegiatan di tanah adat mereka. Warga dan tokoh masyarakat yang hadir antara lain dari desa Unterudang, Aek Buatan, Aek Nabara dan desa lainnya.

Salah seorang tokoh masyarakat Barumun Tengah Toiman Hasibuan menyampaikan bahwa dulu, penyerahan atas pengelolaan hutan oleh masyarakat adat Aek Nabara, Aek Buaton, Sipagabu dan desa lainnya di wilayah Kecamatan Barumun Tengah pada 1981 karena di dalam kesepakatan antara pihak adat dengan pemerintah bahwa pemerintah bersifat meminjam dan apabila tanah adat tersebut dibutuhkan oleh masyarakat, pemerintah harus siap untuk mengembalikan selambat-lambatnya 25 tahun. Bila lahan tersebut belum dibutuhkan masyarakat, musyawarah antara pemerintah dan masyarakat adat akan dilakukan dengan pengertian bahwa perjanjian 1981 ditinjau kembali.

“Sampai hari ini, SRL dan SSL terus beroperasi. Resapan air di kawasan hutan semakin berkurang. Kayu-kayu yang diangkut dengan mobil dump truck telah mengakibatkan jalan-jalan rusak karena beban yang diangkut telah melebihi tonase. Dulu, kawasan Barumun Tengah masih sangat sejuk karena rimbunnya hutan. Tapi sekarang telah berbeda. Sangat panas dan sumber air kian tergerus karena hutan semakin gundul,” paparnya.

Paparan Tioman Hasibuan ditimpali oleh Henri Tambunan warga Unte Rudang. Kalau diingat-ingat 35 tahun yang lalu, orangtua kita tidak tahu kalau tanah adat tersebut diserahkan secara pinjam pakai atau yang lain. Sekarang, baru kita rasakan akibatnya. Cuaca di Barumun makin panas dan tak menentu. Harapan kita, SRL dan SSL memiliki community development atau rasa kepedulian terhadap keberlangsungan hidup masyarakat Kecamatan Barumun Tengah.

“Kegiatan di areal tersebut telah melanggar kesepakatan dan sekaligus tidak menghormati hak-hak azasi masyarakat adat Barumun Tengah. Bahkan, dulu menurut pengakuan orangtua di beberapa desa mereka bisa menyekolahkan anak mereka dengan hasil usaha mengelola tanaman kopi dan pertanian. Akan tetapi tanaman kopi tersebut hanya tinggal kenangan dan sawah di kawasan penebangan hutan tersebut telah kering,” paparnya.

Mendengar pengaduan masyarakat tersebut, Parlindungan dengan tegas mengatakan bahwa segala sesuatu yang mengganggu kehidupan orang banyak harus diperjuangkan dan dicarikan jalan keluarnya.

“Saya akan berupaya untuk menindaklanjuti permasalahan Barumun Tengah, dan laporan serta surat pernyataan serta lampirannya akan saya sampaikan kepada yang berwenang dan mempertanyakan bagaimana jalan keluarnya,” papar Parlindungan.
Untuk lebih meyakinkan Anggota DPD RI yang telah mau turun ke Barumun Tengah, masyarakat tidak lantas puas hanya menyerahkan berkas laporan dan surat pernyataan. Parlindungan Purba juga diajak langsung ke lapangan untuk melihat langsung kawasan hutan yang dibabat.

Di perjalanan pulang, setelah melihat secara langsung hutan yang gundul sejauh mata memandang dengan tegas Parlindungan akan segera menyurati pihak-pihak yang terkait terutama dalam hal pemberian izin sampai 100 tahun dan imbas dari aktifitas perusahaan yang menurut pengakuan dari masyarakat tidak memberikan kontribusi apa-apa. Bahkan, sarana jalan yang ada di Barumun Tengah jadi rusak dan berlubang. (R6/Rel/y)

Penjudi di ringkus Polsek Barumun

Sedikitnya tiga orang pemain judi jenis kopyok terjaring dalam operasi Pekat Toba 2009 yang digelar Polsek Barumun di wilayah hukumnya, Sabtu (21/11) lalu sekitar pukul 02.00 WIB di lokasi perjudian Desa Pintu Padang Kecamatan Ulu Barumun-Padanglawas. Dari tangan penjudi disita barang bukti berupa ember plastik, piring batu, 3 buah mata dadu, satu lembar karpet plastik dan uang tunai Rp483 ribu.


Dalam operasi tersebut petugas menerima informasi dari masyarakat di Desa Pintu Padang Kecamatan Ulu Barumun sedang berlangsung permainan judi Kopyok. Lokasinya persis di salah lokasi pesta perkawinan di desa itu, Setelah menerima informasi berharga itu, Satreskrim Polsek Barumun langsung meluncur ke TKP. Tiba di sana, petugas langsung menyebar dan mengepung lokasi.

Dalam waktu singkat, petugas yang telah mengintai dari jarak 50 meter menggerebek lokasi perjudian itu. Hasilnya tiga penjudi yang sedang asyik bermain judi dibekuk. Dari tiga orang penjudi yang tertangkap, 1 orang merupakan Bandar Dadu ( BD) dan 2 pemain judi.


AKP H Herwansyah Putra SH, Kapolsek Barumun didampingi Ipda Kusnadi, Kanit Reskrim membenarkan pengkapan itu. Dijelaskan, tertangkapnya tiga penjudi berkat kerjasama masyarakat untuk membasmi segala bentuk perjudian yang meresahkan warga.

"Operasi ini digelar bertujuan untuk memberantas perjudian, minuman keras, PSK dan tindak kejahatan lainnya yang menimbulkan keresahan masyarakat. Keberhasilan penangkapan itu tidak lepas dukungan dari semua lapisan masyarakat sehingga segala bentuk perjudian di Palas akan diberantas," terang Herwansyah.


Penjudi yang diringkus itu Rahmat Hasibuan (30) warga Desa Sabarimba Kecamatan Barumun, sebagai Bandar Dadu (BD) dan 2 orang pemain judi dadu kopyok, Ali Raya Nasution (37) warga Desa Binabo Jae Kecamatan Barumun dan Sahrum Nasution (26) warga Desa Pintu Padang Kecamatan Ulu Barumun.

Kepada teman-teman semua, ini peringatan buat kita semua, jangan lagi melakukan perjuadian apapun, karena itu sangat merugikan kita sendiri.

Senin, 23 Agustus 2010

Bupati Padang Lawas (Palas) Basyrah Lubis lebih tegas

Demi Kepentingan Umum Kita Akan Bongkar Paksa Portal Itu. Ternyata kalau demi kepentingan bersama atau umum Bupati Padang Lawas bisa lebih tegas lagi dibanding sebelumnya. Kalau sikap Bupati seperti ini dengan mementingkan keperluan bersama masyarakat pasti sangat mendukung dan merasa bangga mempunyai pemimpin seperti Basyrah Lubis, pastinya.

Menurut informasi yang diambil dari media online hariansib.com ini, bisalah kita simpulkan kalau pemimpin ini wajib di ajungkan jempol untuk perkara yang satu point ini.

Bupati Padang Lawas (Palas) Basyrah Lubis mengatakan , pihaknya akan bersikap tegas, membongkar paksa portal yang dibuat oleh PT Mazuma Agro Indonesia (MAI) karena sudah merugikan masyarakat, terutama pengusaha perkebunan kelapa sawit yang ada di kawasan itu. “Dengan alasan apapun, perusahaan tersebut tidak bisa seenaknya memortal jalan, apalagi jalan umum,” ujar bupati kepada wartawan SIB melalui telepon selulernya, Senin (31/8).

Lebih lanjut dikatakannya, ketidakhadiran pihak PT MAI ketika rapat Muspida plus dilaksanakan, tanggal 18 Agustus 2009 menimbulkan tanda tanya mengenai itikad baik perusahaan perkebunan kelapa sawit itu. Kita buat surat undangan guna membahas pembukaan portal, tapi mereka tidak hadir dengan alasan ada kegiatan yang bersamaan waktunya. Alasan itu bisa saja mereka buat seperti itu, tapi kita tetap teguh pada pendirian, portal harus dibuka.

Mempertegas hasil musyawarah Muspida plus tersebut pihak Pemkab Palas sudah menyurati PT MAI agar membuka portal. Jika tidak dibuka, maka akan dibongkar paksa demi kepentingan masyarakat banyak. Menurut Bupati Basyrah, bahwa hingga saat ini surat Pemkab itu belum ada tanggapan dari pihak PT MAI. Jika perusahaan itu tidak menggubris surat kita maka akan kita lakukan tindakan tegas.

“Kita sangat mendukung investor masuk ke daerah ini untuk memajukan perekonomian masyarakat Padang Lawas. Tetapi, kalau pengusahanya arogan seperti memortal jalan umum maka kita harus buat perhitungan,” ujar bupati. Mengenai surat Pemkab ke PT MAI, bupati mengatakan bahwa Sekdakab yang tahu persis.

Sementara Sekdakab Palas Syahrul Mulia Harahap dikonfirmasi SIB mengatakan bahwa pihaknya sudah menyurati secara resmi pihak PT MAI agar membuka portal tersebut. “Kita sudah surati perusahaan itu dan sudah beritahu kalau Muspida sudah rapat soal portal jalan, namun hingga saat ini belum ada tanggapan,” ujarnya.

Begitupun pihak Pemkab juga mengirim surat kepada PT MAI dan kepada perusahaan terkait agar duduk bersama menyelesaikan kasus pemortalan itu. Rabu (2/9) ini merupakan penentuannya, apakah portal dibuka atau tidak. “Jika dibuka yah terima kasih , tapi kalau tidak dibuka maka kita bersama Muspida akan buat tindakan membuka secara paksa karena sudah merugikan masyarakat,”ujar Sekda. (T7/p)

Kata Washington Padang Lawas Diminati Investor Singapura

Pertambangan dan Energi Sumut. Hal ini diungkapkan Kadis Pertambangan dan Energi Sumut Washington Tambunan, ketika mendampingi Gubsu Rudolf M Pardede mengunjungi Paviliun Pemkab Palas di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-37, Selasa (1/4) malam.

Menurut infor masi yang di kutip dari hariansib.com Pemerintah provinsi Sumatera Utara melalui Dinas Pertambangan dan Energi Sumut akan mengeksplorasi tambang batubara dan emas di Kabupaten Padang Lawas (Palas). Rencana ini semakin kuat setelah investor asal Singapura menyatakan ketertarikannya untuk mengembangkan dua komoditas tambang andalan dari kabupaten baru tersebut. Yaitu Padang Lawas.

Ikut dalam kunjungan Khoo Hein Hiong, yakni investor asal Singapura yang menyatakan minatnya tersebut. Investor ini memang sudah menyatakan ketertarikannya untuk membuka usaha pertambangan di Kabupaten Padang Lawas.

Dengan demikian kita akan terus mengupayakan agar hal ini bisa terealisasi dari pembicaraan dengan Gubsu yang tadi, telah mengarah kepada penanaman investasi yang akan dilaksanakan. Namun demikian, mereka masih akan mengunjungi lokasi secara langsung dan melihat potensi yang dimaksud, katanya.

Pada dasarnya Sumut yang memiliki banyak daerah potensial memang terbuka untuk investasi, khususnya dalam bidang pertambangan yang belum dikelola secara maksimal, karena belum tersentuh investor. Dengan adanya ketertarikan ini, maka potensi yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal.

Mengenai nilai investasi, arah pembicaraan belum mengarah ke sana. dikarenakan, hingga saat ini investor yang bersangkutan belum melihat secara langsung kondisi lokasi dan kandungan batubara dan emas yang ada di Padang Lawas ini. Padahal lebih cepat itu lebih baik, kalau intinya Masyarakat setempat bisa di makmurkan itu sudah aman.

Sebelum menetapkan nilai investasi, terlebih dahulu investor yang bersangkutan akan melakukan peninjauan langsung ke lokasi.
Untuk itu, lanjutnya, langkah berikut yang akan kita laksanakan adalah menginventarisir, dengan kata lain melakukan pendataan secara cermat terhadap lokasi dan potensi yang ada. Sehingga, tujuan investasi ini dapat memberikan manfaat, terutama untuk peningkatan perekonomian masyarakat daerah Padang Lawas secara khusus, dan Sumut pada umumnya.

Selasa, 20 Juli 2010

Berburu Babi di Sibuhuan Padang Lawas

Tadi malam sekitar jam 11 malam, saya heran begitu mendengar acara berburu di Trans TV, sebab didalam acara tersebut Trans TV menyebut lokasi perburuannya adalah di Sibuhuan Padang lawas.

Mula-mula saya tidak mengira kalau lokasi perburuan itu berada di kampung halaman saya, memang kampung saya sudah terkenal tempat perkebunan sawit yang sangat luas, jadi wajar saja kalau di lokasi perkebunan sawit itu banyak babi atau biasa disebut Hama. Di Sibuhuan Padang Lawas ini dulunya warga hanya bertani dan kebun karet, itulah mata pencaharian sehari-hari atau kegiatan orangtua kami sehari-hari, setelah beberapa perusahaan membangun atau mengolah tanah kosong tersebut dengan membuat perkebunan sawit, ternyata perkebunan sawit itu membuahkan hasil yang sangat luar biasa.

Dulu sich pernah banyak orang menanami jeruk manis dan ternyata berkebun jeruk manis itu juga sangat bagus dan manghasilkan uang yang banyak, sehingga dengan hasil kebun jeruknya bisa membawa ia naik haji ke mekkah, ada juga dengan hasil jeruk manisnya bisa membangun rumah yang mewah, tapi tidak bertahan begitu lama dan sekarang jeruk manis itu sudah punah di Sibuhuan Padang Lawas.

Penyebab kepunahan jeruk manis tersebut Kalau setahu saya dikarenakan orang-orang yang takabbur, terlalu sombong. Contoh: Kadang banyak warga yang tidak sadar dengan mengucapkan "ah berapa kilo jeruk manis lah itu" ada juga yang bilang "ah sekali panen jeruk manis saja sudah bisa aku bayar hutang". Nah itulah yang membuat jeruk manis itu punah dari sebuhuan Padang Lawas itu.

Memang dulu hasil Jeruk manis itu dengan sekali panen bisa mencapai satu hingga dua Ton jeruk manis, itu dengan luas tanah delapan pastak atau sekitar setengah hektar, isi pokok jeruk sekitar 150 poko jeruk. Nah jika menghasilkan satu ton jeruk di kali sepuluh ribu rupiah per kilo, berarti uangnya Sepuluh Juta Rupiah per sekali panen.

Tapi sekarang kalau pun jeruk manis tersebut hidup dan berbuah, nanti buahnya akan asam tidak manis lagi. Ntah kenapa saya juga kurang tahu, namun kalau menurut saya pengaruh seperti yang saya bilang tadi di atas.

Ketika orang mulai menanam sawit ternyata hasil sawit tidka kalah dengan hasil jeruk manis tadi, lebih hebat lagi hasil sawit, apalagi dollar lagi naik otomatis harga sawit juga bakal naik.

Sebetulnya kebun karet juga banyak, tetapi kebun sawit lebih mencolok di pasaran atau bisa dibilang lebih terkenal keunggulannya. Sibuhuan Padang lawas memang lokasinya sangat luas untuk sebuah perkebunan, untuk para investor jangan ketinggalan untuk memiliki lahan Kebun sawit di Padang Lawas. Karena Padang Lawas memiliki tanah kosong yang sangat luas untuk dijadikan bisnis Perkebunan Sawit.

Selasa, 13 Juli 2010

Padang Lawas mempunyai potensi sumber daya alam yang besar


Sebagaimana diketahui bahwa Kabupaten Padang Lawas (Palas) yang dikenal dengan pusat pemerintahannya di Sibuhuan sebagai daerah yang memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar. Memang hal itu tidak bisa dibantah, karena klaim tersebut sangat didukung fakta dan kenyataan bahwa Kecamatan Sosopan, Kecamatan Ulu Barumun, Kecamatan Barumun, Lubuk arumun, Kecamatan Sosa, Batang Lubu Sutam, Hutaraja Tinggi, Barumun Tengah dan Kecamatan Huristak sebagai wilayah cakupan Palas merupakan bumi yang menyimpan potensi pertanian dan perkebunan.

Daerah Otonom Baru (DOB) hasil pemekaran Kabupaten Tapanuli Selatan yang terwujud tahun 2007 lalu ini mencapai luas 3.892,74 km bujursangkar. Berpenduduk menurut data tahun 2006 mencapai 233.933 jiwa menghuni 305 desa ditambah satu kelurahan ini sejak dulu dikenal memiliki potensi alam yang memberi peluang terbebasnya kawasan yang biasa disebut Barumun Raya tersebut dari kantong-kantong kemiskinan sebagaimana dimiliki hampir sejumlah daerah kabupaten/kota di Sumut.

Potensi Padang Lawas
Potensi alam yang dimiliki Palas dimaksud meliputi sektor perkebunan, pertanian, perikanan, peternakan, kehutanan dan pertambangan. Potensi perkebunan dan pertanian, terlihat seperti di Kecamatan Sosa, di Hutaraja Tinggi, di Kecamatan Batang Lubu Sutam, Kecamatan Sosopan, Kecamatan Barumun Tengah dan Kecamatan Huristak. Bahkan beberapa kecamatan tersebut saat ini telah menjadikan sektor perkebunan jenis kelapa sawit menjadi potensi andalan yang telah banyak merubah taraf hidup warga ke arah yang semakin membaik.

Masih dari sektor perkebunan dan pertanian di Palas, Kecamatan Sosopan malah memiliki produk andalan mulai dari Kulit Manis dengan produksi 15 ton lebih setiap minggu, produk andalan kedua Sosopan setelah kulit manis adalah karet dengan produksi 50 ton getah setiap bulan, kemudian nilam dengan produksi 25 kilogram setiap bulan dan gabah yang mencapai produksi enam ton lebih setiap musim panen (6 bulan) dari luas areal persawahan 250 hektare.

Selain itu Palas juga memiliki potensi alam yang kaya di sektor pertambangan seperti Batu Bara di Kecamatan Sosopan dan Sosa, timah hitam di Kecamatan Batang Lubu Sutam, Ulu Barumun, Kecamatan Sosa dan Sosopan. Kemudian minyak bumi di Kecamatan Barumun Tengah (Lapangan Tonga I dan Lapangan Tonga II). Itu ditambah lagi dengan bahan galian non logam seperti kapur, marmer, granit dan batu gamping di Kecamatan Sosopan serta Pasir Kuarsa di Kecamatan Huristak dan Barumun Tengah.

Berkat potensi yang dimiliki Kabupaten Padang Lawas tersebut, seperti diungkapkan sebelumnya, kehidupan warga di daerah ini sejak beberapa tahun terakhir mulai nampak semakin sejahtera. Kondisi menggembirakan ini terlihat terutama di Kecamatan Sosa, Sosa Jae, Kecamatan Barumun dan Barumun Tengah. Fakta tersebut membuat daerah ini sejak beberapa tahun terakhir dijuluki sebagai daerah dollar.

Untuk itu, tidak heran jika ditemukan banyak putra-putri dari Padang Lawas khususnya dari beberapa kecamatan tersebut di atas telah mengenyam pendidikan sampai ke jenjang pendidikan tinggi, bahkan ada beberapa di antara mereka yang sudah ke program S-2 dari berbagai disiplin ilmunya.

Namun demikian, satu hal yang tidak bisa dibantah adalah bahwa di balik peta potensi sumber daya alam yang dimiliki Kabupaten Padang Lawas yang begitu besar dan kaya, masih terlihat sejumlah pemukiman warga yang menjadi indikator bahwa penghuninya masih hidup di bawah garis kemiskinan. Artinya daerah yang begitu potensial dan kaya, rasanya tidak pantas masih memiliki warga miskin.



Mereka para warga yang berstatus pra sejahtera tersebut tidak saja ditemukan di pelosok pedesaan terpencil seperti di Kecamatan Batang Lubu Sutam, Kecamatan Hutaraja tinggi, daerah terpencil Kecamatan Sosopan (kawasan Siborna Bunut), Kecamatan Huristak dan Kecamatan Sosopan, tetapi juga banyak ditemukan tidak jauh dari Sibuhuan, ibukota Kabupaten Palas. Warga miskin tersebut ada di Kecamatan Lubuk Barumun, tepatnya sekitar Pasar Latong, bahkan ada di Kecamatan Barumun sendiri seperti wilayah Hasahatan Jae dan di Kecamatan Ulu Barumun.

Warga miskin yang berdomisili tidak jauh dari Pasar Latong misalnya, meskipun Tanah Air tercinta ini sudah 64 tahun merdeka, tetapi kondisi kehidupan mereka masih seperti kehidupan manusia Indonesia pra kemerdekaan 1945 silam. Misalnya, masih ada warga setempat yang  hingga saat ini belum menikmati penerangan listrik. Bahkan ada sejumlah rumah kediaman warga di desa ini yang dindingnya terbuat dari bambu lapuk dengan model rumah berkolong berukuran seadanya.

Warga dari sejumlah desa di atas hingga saat ini masih hidup dari penghasilan sebagai buruh harian lepas (BHL) di perusahaan-perusahaan perkebunan yang beroperasi di Nagargar, Kecamatan Lubuk Barumun dengan naik truk setiap waktu shubuh. Bahkan mungkin ada yang lebih jauh lagi seperti ke perkebunan di Kecamatan Sosa dan sekitarnya.

Kita juga prihatin dengan kondisi kehidupan warga sejumlah desa di Kecamatan Batang Lubu Sutam yang juga hingga saat ini masih ada yang belum tersentuh pembangunan infrastruktur jalan. Pada usia 59 Indonesia Merdeka, tepatnya tahun 2004 yang lalu, daerah tersebut resmi menjadi kecamatan dengan ibukota Pinarik hasil pemekaran Kecamatan Sosa. Waktu itu warga banyak berharap pemekaran kecamatan akan mengubah nasib mereka. Pemerintah akan mengikutkan daerah mereka dalam peta perhatian untuk dibangun agar mereka terlepas dari keterisoliran.

Namun hingga di usia RI 64 tahun saat ini dan Kecamatan Batang Lubu Sutam telah berusia lima tahun klop, kecamatan itu belum juga ikut “merdeka” dari keterisoliran yang diderita warganya. Padahal potensi perkebunan  kelapa sawit yang menjadi andalan Padang Lawas juga banyak diproduksi dari Kecamatan terisolir ini. Putra-putri bangsa yang berpendidikan juga banyak berasal dari Kecamatan Batang Lubu Sutam, bahkan tidak sedikit yang sudah ikut dan pernah menjadi pengambil kebijakan di lingkungan pemerintah.

Kondisi kehidupan masyarakat yang begitu menyayat hati, ternyata belum membuat pemerintah berpikir keras untuk melepaskan mereka yang hidup memprihatinkan itu dari kehidupan yang mereka derita yang sampai-sampai mereka merasakan belum adanya bukti dari karya nyata para pengambil keputusan di daerah ini. Mereka bahkan merasakan belum ikut “merdeka” walau negeri ini sudah 64 tahun merdeka. Padahal daerah ini memiliki potensi sumber daya alam yang begitu besar dan kaya, sehingga logika sehat mengatakan tidak pantas daerah ini memiliki warga miskin dan kawasan terisolir.

Tidak ada kata lain, daerah ini harus secepatnya lepas dari kemiskinan dan kawasan terisolir. Untuk itu, Bupati Basyarah Lubis dan Wakil Bupati H. Tongku Ali Sutan Harahap (TSO) harus mencari solusi guna merubah daerah ini. Karya nyata KDH dan Wakil KDH Padang Lawas sudah ditunggu masyarakat. Hendaknya daerah ini terlepas dari peta kemiskinan dan kawasan terisolir pada tahun 2012 nanti. Resepnya adalah karya nyata dan ide segar sang Bupati dan Wakil Bupati, karena tidak ada alasan daerah ini tidak mampu untuk lepas dari dua keprihatinan di atas, jika dilihat dari potensi daerah yang dimiliki Padang Lawas. Semoga terwujud. Amien.
From: waspada.co.id

UJIAN PERDANA CPNS PEMKAB PADANG LAWAS

Ikapalas Batam. Pasar Latong, Seleksi CPNS Pemerintah Kabupaten Padang Lawas sudah terlaksana serentak di wilayah Padang Lawas. Jumlah peserta yang mendaftar diperkirakan kurang lebih 2.890 orang pelamar, sungguh luar biasa. Jumlah ini akan memperebutkan jatah 423 orang untuk semua klasifikasi dan formasi jabatan.

Menurut informasi seleksi CPNS ini bekerja sama dengan Universitas Sumatera Utara (USU). Jadi yang menjadi pertanyaan sekarang adalah sejauh manakah kerja sama ini...?, apakah kerja samanya hanya dalam pembuatan soal dan penilaian atau sekaligus kerjasama dalam penentuan kelulusan....?  atau berdasarkan ranking?.

Dalam hal ini, bagi kita anda peserta pelamar hanya bisa pasrah saja, sebab kita tidak tahu ini murni atau sebaliknya. Kalau memang ini murni, kita masih bisa berharap ada harapan lulus bila kemampuan kita menyanggupi, kita bisa menjawab dengan benar soal yang diberikan mungkin kita yakin, bila memang murni caranya. akan tetapi bila ini ada unsur yang lain alias KKN, maka walaupun anda menjawab benar semua soal yang diberikan maka jangan terlalu berharap untuk mendapatkan kelulus.

Semoga CPNS di Pemkab Padang Lawas ini sesuai dengan yang diharapkan seluruh pelamar pada khususnya dan seluruh masyarakat Padang Lawas pada umumnya. Demi kemajuan Kabupaten Baru ini di kemudian hari.

Semoga Padang Lawas dapat berkembang, menjadi kabupaten yang sukses, dapat meningkatkan kualitas masyarakatnya, masyarakat yang madani. Amiiin.

Rabu, 14 April 2010

Pengangkatan PNS di Kec. Ulu Barumun PALAS

Pemkab Padanglawas (Palas) terkesan memaksakan pengangkatan sekretaris desa (Sekdes) menjadi pegawai negeri sipil (CPNS). Kondisi ini menimbulkan kesenjangan dan permasalahan di masyarakat.

Seperti masyarakat Desa Pasar Ipuh, Kecamatan Ulu Barumun. Mereka keberatan dengan pengangkatan Mirhan Lubis. Soalnya, Mirhan pada tahun 2004 belum menjabat sebagai sekdes. Sementara sesuai ketentuan harus menjabat sekdes sejak 2004 hingga sekarang, tanpa pernah putus. Demikian dikemukakan tokoh pemuda Kecamatan Ulu barumun, Basmi Hasibuan, Selasa (16/2), di Paringgonan.

Apalagi Mirhan tidak memiliki STTB. Buktinya, dia gagal maju sebagai calon kepala desa pada 2004, karena tidak ada STTB. “Kalau sekarang ada, perlu dipertanyakan,” ujar Basmi Hasibuan.

Sekretaris Desa Pasar Ipuh sesuai Surat Penugasan Camat Ulu Barumun, Ahmad Baki Hasibuan juga sangat menyesalkan kebijakan yang dibuat kepala desa yang membuat keterangan untuk Mirhan seolah-olah menjabat sejak 2004. “Dan tidak tertutup kemungkinan adanya keterlibatan pihak kecamatan,” duga Ahmad Baki.

Sementara Kepala Inspektorat Kabupaten Padanglawas Drs Syamsul Bahri Batubara, ketika dikonfirmasi Global melalui telepon, mengaku hingga kini belum menerima laporan dari pihak yang merasa keberatan, namun hal ini sudah di tangani kejaksaan.

Lebih lanjut Syamsul menegaskan, biarpun hal ini telah ditangani pihak kejaksaan namun bila pihaknya menerima surat keberatan dari masyarakat, akan tetap diproses dan terlebih dahulu melaporkannya kepada Bupati Basyrah Lubis.

Dari:
apakabarsidimpuan.com

Ulu Barumun, Padang Lawas adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, Indonesia.

Malaria mewabah di Kecamatan Ulu Barumun, Kabupaten PadanglLawas (Palas). Sebanyak 72 warga telah terjangkit penyakit menular itu. Demikian dikatakan Kepala Puskesmas (Kapus) Paringgonan Sri Purnama Daulay, akhir pekan lalu.

Sri Purnama menjelaskan, dari data pihak puskesmas, dari 15 desa di wilayah tugasnya terdapat 5 desa yang terjangkit wabah Malaria jenis bakteri farce varum itu, yakni . Pasar Ipuh, Paringgonan, Paringgonan Julu, Paran Batu dan Sibual-buali.

Dikatakan Kapus Paringgonan, warga yang dinyatakan positif terjangkit diberi pengobatan secara gratis berupa obat Artesdiaquine,Clean Swab, dan Quinine.

Pihaknya juga telah melakukan upaya antisipasi agar bakteri tidak menyebar lebih luas lagi dengan melakukan fooging (pengasapan) selama dua hari pada 20-21 Januari dan juga membagi kelambu permanen kepada warga yang sudah terjangkit.

Sementara Kadis Kesehatan dan Sosial Palas Drs H Ahmadi Hutagalung melalui Kabid Pencegahan dan Pembrantasan Penyakit (P2P) H Gojali AMK SE menyebutkan, pihaknya akan memberi ABT disamping penyemprotan fooging dan pemberian kelambu dan pengobatan gratis.

Ditambahkan, wabah penyakit ini sebelumnya juga menjangkit Desa Siali-Ali wilayah kerja Puskesmas Latong sekitar bulan September 2009 lalu. Malah jumlah penderita lebih tinggi dari Kecamatan Ulu Barumun.

Dikatakan bahwa berdasarkan hasil survei, Kecamatan Ulu Barumun tidak termasuk daerah endemis atau rentan penyakit malaria. Daerah endemis itu di Kecamatan Lubuk Barumun, Barumun Tengah, Sosa dan Hutaraja Tinggi.

Makanya pihak Dinkessos telah mengambil sample 1.800 warga Palas, guna memastikan status daerah lain. “Paling lambat bulan Februari 2010, tiga puskesmas diluar 5 puskesmas yang statusnya sudah endemis, akan diketahui statusnya,” ujarnya.

Dari: apakabarsidimpuan.com

Selasa, 13 April 2010

Padang Lawas dari dulu terkenal memiliki potensi sumber daya alam yang meliputi sektor perkebunan

Pemekaran Tapanuli Selatan pada tahun 2007 telah membentuk dua Daerah Otonom Baru (DOB) sekaligus, yakni Padang Lawas Utara (Paluta) dan Padang Lawas (Palas). Masing-masing sebagai aktualisasi dari UU RI No 37 dan No 38 Tahun 2007.

Dimulainya pelaksanaan roda pemerintahan dari pembentukan DPRD untuk mengantar pelaksanaan pemilihan kepala daerah yang definitif setelah satu tahun usia pemekaran dan pembentukan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) masing-masing.

Pada hakekatnya semua daerah otonom baru selalu diliputi berbagai persoalan yang menggelinding bersamaan dengan dimulainya kegiatan pemerintahan dalam mengentas ketertinggalan menuju kemajuan yang pada intinya guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah bersangkutan.

Berbagai permasalahan dan persoalan yang dihadapi selalu menjadi tugas utama bagi penjabat kepala daerah yang ditunjuk untuk memecahkannya.

Khusus Palas dengan cakupan wilayah terdiri Kecamatan Sosopan, Ulu Barumun, Barumun, Sosa, Batang Lubu Sutam, Hutaraja Tinggi, Lubuk Barumun, Barumun Tengah dan Huristak.

Sejak menjadi kabupaten pada tahun 2007, daerah ini telah diliputi berbagai permasalahan rumit bagai benang kusut yang sangat sulit untuk diurai. Bahkan di antara berbagai permasalahan itu ada yang telah dihadapi masyarakat jauh-jauh sebelum kawasan Barumun Raya ini resmi menjadi kabupaten baru.

Miliki warga miskin

Padang Lawas dari dulu terkenal memiliki potensi sumber daya alam yang meliputi sektor perkebunan, pertanian, perikanan, peternakan, kehutanan dan pertambangan. Potensi-potensi tersebut terdapat hampir merata di seluruh kecamatan se- Padang Lawas.

Lihat saja potensi perkebunan dan pertanian terlihat di Kecamatan Sosa, di wilayah Sosa Jae, di Batang Lubu Sutam, Kecamatan Sosopan, Barumun Tengah dan Kecamatan Huristak.

Khusus sektor perkebunan besar jenis kelapa sawit telah membuat Kecamatan Sosa dan sekitarnya, Barumun Tengah, Kecamatan Huristak, Lubuk Barumun dan Barumun menjadi penyumbang kontribusi besar terhadap daerah Tapsel dulunya sebelum pemekaran dan Padang Lawas sekarang pasca pemekaran.

Selain potensi di bidang perkebunan, Palas juga memiliki potensi alam besar di sektor pertambangan seperti Batu Bara di Sosopan dan Sosa. Timah hitam di Batang Lubu Sutam, Ulu Barumun, Sosa dan Sosopan.

Kemudian minyak bumi di Barumun Tengah (Lapangan Tonga I dan Lapangan Tonga II). Ditambah lagi dengan bahan galian non logam seperti kapur, marmer, granit dan batu gamping di Sosopan serta Pasir Kuarsa di Huristak dan Barumun Tengah.

Namun di balik potensi-potensi yang dimiliki Palas, satu hal yang perlu menjadi renungan dan pemikiran ekstra serius adalah bahwa Kabupaten Padang Lawas, ternyata masih memiliki 86.367 jiwa warga yang hidup miskin atau 36,74 persen dari 206.286 jiwa penduduk Padang Lawas.

Padahal dari pandangan mata luar, orang berkesimpulan bahwa walaupun Palas merupakan daerah otonom baru tetapi sudah termasuk daerah yang makmur dan kehidupan warganya yang sejahtera secara ekonomi.

Kondisi Padang Lawas dengan luas wilayahnya 42.299.900 hektare ini pada kenyataannya sungguh-sungguh memprihatinkan, karena di balik potensi alam kaya yang dimiliki Palas, ternyata para penduduknya bagaikan ‘ayam menderita kelaparan di lumbung beras’.

Ini sungguh mengherankan karena terlihat adanya kontradiksi antara potensi daerah yang ada dengan fakta kehidupan sebahagian penduduk, sehingga berujung kepada keprihatinan yang sangat dirasakan di daerah ini.

Pasokan listrik

Selanjutnya masalah yang tidak kalah peliknya dihadapi masyarakat Padang Lawas adalah seputar pasokan listrik PT. PLN (Persero) yang sejak dulu hingga di usia lebih 64 tahun Kemerdekaan RI sekarang ini yang tidak menentu. Kondisi dan fakta tersebut kini berbuntut kepada PLN sebagai persero yang ditugasi sebagai penyedia pasokan listrik di Tanah Air menjadi sasaran umpat, caci-maki dan kecaman pedas sampai sumpah serapah masyarakat Padang Lawas selama ini.

Wilayah Sosa Jae sebagai kawasan paling ujung Padang Lawas dan berbatasan langsung dengan Provinsi Riau berpenduduk 32.847 jiwa lebih dan diperkirakan tidak kurang dari 97 persen telah terdaftar menjadi pelanggan listrik PLN sangat mengeluhkan kondisi pasokan listrik yang setiap hari dan setiap malam terhenti sampai empat jam, bahkan tidak jarang sampai 12 jam.

Jika padam pukul 02.00 misalnya, jangan heran bila listrik PLN di kawasan ini nyala kembali pada pukul 12.00, bahkan sampai pukul 15.00 petang. Tetapi jika listrik padam pada pukul 16.00, biasanya akan nyala kembali pada pukul 03.00 dinihari.

Akibatnya selain harus menyiapkan biaya untuk pembayaran rekening listrik, pelanggan juga terpaksa menyiapkan dana untuk membeli minyak tanah yang semakin sulit untuk didapatkan warga pelanggan listrik yang sudah gelap gulita di malam hari. Ini membuat Palas kini jauh tertinggal di sektor energi kelistrikan dari daerah lain bahkan dari Padang Lawas Utara sendiri yang sama-sama terbentuk menjadi kabupaten baru. Kekhawatiran yang bisa dipastikan terjadi adalah Padang Lawas akan terus mengalami keterpurukan akibat kondisi pasokan listrik yang amburadul ini.

Kondisi pasokan energi listrik acak-acakan tersebut juga membuat seorang putra Palas yang telah menjadi pengusaha sukses di Jakarta baru-baru ini memilih membatalkan investasinya di tanah asal (Padang Lawas) karena yang bersangkutan khawatir usahanya nanti di Padang Lawas justru merugi akibat pasokan energi listrik yang tidak jelas kapan stabil.

Pemerintah Kabupaten Palas dinilai tidak mampu menuntaskan krisis energi listrik yang terjadi walau yang bersangkutan telah sepuluh bulan berkuasa. Itu berarti tumpuan harapan warga untuk mengeluarkan dan membebaskan daerah ini dari kondisi kelistrikan yang semakin terpuruk tersebut menjadi nol.

Perubahan yang lamban

Permasalahan lain yang dihadapi masyarakat Palas adalah perubahan daerah ke arah yang lebih baik kini terlihat lamban. Gerakan pembangunan dan pemerintahan Palas sesungguhnya jauh lebih lamban dari daerah lain. Tidak seperti Mandailing Natal yang resmi menjadi kabupaten pada tahun 1999, belum memiliki kepala daerah defenitif waktu itu sudah terlihat adanya perubahan yang signifikan.

Di bidang pendidikan, Padang Lawas masih saja terpuruk. Belum ada putra-putri dari daerah ini yang ditemukan mampu mengukir prestasi di bangku sekolahnya mulai dari SD sampai ke SLTA setidaknya di tingkat Provinsi Sumatera Utara. Belum lagi putra-putri Padang Lawas yang berhasil bebas testing masuk ke Perguruan Tinggi Negeri terkemuka. Ini juga masih nol.

Pembebasan kawasan terisolir di Padang Lawas, nampak belum ada yang terwujud. Buktinya, Barumun Tengah, Huristak, Batang Lubu Sutam dan Sosa yang hingga sekarang masih merupakan kecamatan yang memiliki kawasan-kawasan terisolir belum ada tanda-tanda terbebas dari keterisoliran itu.

Ini merupakan indikator dan bukti konkrit betapa rekuritmen aparatur di jajaran Pemkab Padang Lawas masih saja acak-acakan. Aparatur yang berkualitas rendah tetapi diberi jabatan strategis akan membuat pemerintah semakin jauh dari keberhasilan pembangunan yang sudah lama diinginkan masyarakat setempat.

Mampukah pemerintah daerah berkarya nyata memecahkan berbagai permasalahan tersebut dalam kepemimpinannya? Kita lihat saja nanti, yang terpenting diingatkan adalah masyarakat memiliki tugas untuk mengawasinya. ***** (Balyan Kadir Nasution : Penulis adalah Wartawan Harian Waspada, peserta Workshop-Seminar “Media And Local Government: Corruption And Acces To Information” di Davao City, Filiphina, tahun 2003. Putra Kelahiran Sosa Jae, Kabupaten Padang Lawas. )

Huristak, Padang Lawas

Huristak adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, Indonesia.

Sedikit bercerita tentang Huristak, mengenai Jembatan Layang/Jembatan Gantung.

Pembangunan JembatanGantung (Rambin) yang melintas di atas Sungai Barumun menghubungkan Desa Tobing Jae dengan Desa Padangsiopal Kec. Huristak, sepanjang 100 m, lebar 2 meter, biaya Rp700 juta dibangun tahun 2006 oleh Pemerintah Kab.Tapanuli Selatan hingga kini terbengkalai.

Batang Lubu Sutam, Padang Lawas

Kecamatan adalah pembagian wilayah administratif di Indonesia di bawah kabupaten atau kota. Kecamatan terdiri atas desa-desa atau kelurahan-kelurahan.

Batang Lubu Sutam adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, Indonesia.

Kabupaten Padang Lawas

Kabupaten Padang Lawas adalah kabupaten di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia, yakni hasil pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Selatan.

Kabupaten ini resmi berdiri sejak diundangkannya Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 38, Tahun 2007, tepatnya pada tanggal 10 Agustus 2007, bersama-sama dengan dibentuknya Kabupaten Padang Lawas Utara, menyusul RUU yang disetujui pada 17 Juli 2007. Ibukota kabupaten ini adalah Sibuhuan.

Barumun, Padang Lawas:
Barumun adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Indonesia.

Paling sering dibaca

Pengikut